Mendiknas Simulasikan Nilai UN




Simulasi UNFormula nilai akhir penentu kelulusan siswa sekolah menengah pertama (SMP) dan sederajat, serta sekolah menengah atas (SMA) dan sederajat, ditetapkan dengan menggabungkan nilai mata pelajaran ujian nasional (UN) dengan nilai sekolah. Nilai akhir adalah pembobotan 60 persen nilai UN ditambah 40 persen nilai sekolah. Formula ini akan digunakan pada UN Tahun Pelajaran 2010/2011.Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh menyampaikan hal tersebut pada jumpa pers akhir tahun di Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Jakarta, Kamis (30/12). Mendiknas mengatakan, formula UN merupakan hasil kesepakatan bersama Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) selaku penyelenggara UN dan atas rekomendasi Dewan Perwakilan Rakyat. “Kalau dulu UN sendiri dinilai hasilnya berapa. Kalau dia memenuhi 5,5 ke atas lulus. Pada 2011 dikombinasikan antara ujian yang dilakukan secara nasional, dengan prestasi atau capaian waktu dia sekolah kelas 1,2, dan 3,” katanya.
Baca lebih lanjut
Iklan

Formula Nilai Kelulusan UN 2011

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah dan Badan Standar Pendidikan Nasional telah siap dengan formula baru penilaian kelulusan siswa dari satuan pendidikan. Untuk itu, pelaksanaan ujian nasional tahun ajaran 2010/2011 hanya dilaksanakan satu kali pada bulan Mei 2011.
Pada tahun ini UN ulangan ditidakan. Adapun ujian sekolah diadakan sebelum pelaksanaan UN.
Baca lebih lanjut

Formula nilai kelulusan UN 2011 diubah

Sumber Kompas.COM menuliskan bahwa penilaian kelulusan siswa SMP dan SMA sederajat pada pelaksanaan Ujian Nasional 2011 akan diubah. Standar kelulusan siswa dihitung dengan formula baru yang tidak saling memveto, tetapi dengan mengakomodasi hasil belajar siswa selama di sekolah.

Komisi X DPR dalam rapat kerja dengan Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh di Jakarta, Senin (13/12/2010), menyepakati, dalam formula baru kelulusan siswa dari satuan pendidikan harus mengakomodasi nilai rapor, ujian sekolah, dan ujian nasional (UN). Bahkan, mata pelajaran lain yang tidak masuk UN juga diminta untuk dipakai sebagai pertimbangan kelulusan.

Ketua Panitia Kerja UN Komisi X DPR Rully Chairul Azwar mengatakan, pada kelulusan siswa mulai tahun 2011 jangan lagi dengan penilaian yang saling menjatuhkan. Kegagalan siswa lulus dari sekolah selama ini banyak didominasi hasil UN yang tidak mencapai nilai minimal.

”Kita berutang kepada masyarakat soal standar mutu pendidikan yang belum sama. Jadi, tidak bisa ujian kelulusan dengan standar sama. Formula baru standar kelulusan siswa mesti adil untuk siswa dengan mengakomodasi hasil belajar selama sekolah dan mempertimbangkan nilai lainnya,” kata Rully.

Pemerintah sepakat

Nuh mengatakan, pemerintah sepakat dengan masukan DPR untuk mengakomodasi semua proses belajar siswa selama di sekolah. Meski bersedia menerima masukan Komisi X DPR, pemerintah masih tetap ingin supaya dalam penghitungan nilai akhir siswa yang menjadi acuan standar kelulusan tetap memberi bobot yang lebih besar pada hasil UN. Nuh beralasan, nilai UN perlu untuk mengontrol nilai sekolah.

Dari kajian Kemendiknas, sekolah yang terakreditasi C cenderung lebih mudah atau royal memberi nilai tinggi kepada siswa. Dengan demikian, nilai dari sekolah untuk semua siswa hampir sama, dianggap belum mampu membedakan mana siswa yang berprestasi baik dan biasa- biasa saja atau di bawah rata-rata.

Nuh mengatakan, nilai akhir yang merupakan gabungan dari nilai sekolah dan nilai UN tetap harus memenuhi syarat nilai minimal. Pemerintah berencana mematok nilai minimal 5,5. Dengan adanya formula baru kelulusan siswa, berkembang wacana tidak ada lagi UN ulangan.

Lebih jauh M.Nuh mengatakan dalam rapat kerja dengan Komisi Pendidikan DPR (X), Senin (13/12). “Standar nilai minimal UN untuk tahun depan bobot lebih besar  5,5. Maksimum 2 mata pelajaran dengan nilai minim 4 dan maksimum 4 mata pelajaran di atas  4,25,” katanya.

Dedy S Gumelar dari Fraksi PDI-P mengatakan, penilaian kelulusan nanti sudah mengakomodasi penilaian dari guru dan sekolah serta tidak saling menjatuhkan sehingga tidak perlu UN ulangan. Nuh mengatakan, ada atau tidaknya UN ulangan, akan dibahas kembali.

Tidak Adil

Menanggapi formula kelulusan UN 2011 Eduction Forun memberi tanggapan, seperti diberitakan oleh Tribunjabar.co.id berikut ini. Namun hasil rapat ini oleh Education Forum , salah satu tim penggugat UN,  dinilai belum jelas formulasinya dan bila bobot nilai UN 60% dalam penghitungan nilai kelulusan, maka hasil rapat ini masih memberatkan siswa dan UN masih dianggap memveto kelulusan.

Koordinator Education Forum, Suparman, mengatakan, meski sudah ada keputusan sistem kelulusan nilai UN akan digabungkan dengan nilai rapor dan ujian sekolah dengan bobot nilai UN 60% dan nilai sekolah 40%, keputusan tersebut tidak diikuti dengan formulasi yang jelas.

Menurut Suparman, kalau bobot nilai UN 60%, maka ini dianggap UN masih memveto kelulusan. Padahal, kelulusan siswa itu ditentukan dari proses mereka selama menempuh pendidikan. “Dalam sistem pendidikan, proses juga harus dipertimbangkan. Jangan hasil akhirnya saja,” kata Suparman saat dikonfirmasi, Selasa (14/12).

Kunci Sukses Menaklukkan UN 2011

Ada sesuatu yang menarik dari hasil UN 2010. Jikalau pada UN tahun sebelumnya, nilai ujian Matematika menjadi penentu ketidaklulusan, namun pada UN tahun 2011 justru Bahasa Indonesia menjadi penentu ketidaklulusan peserta UN. Kenyataan ini akan mengubah image siswa selama ini bahwa Matematika-lah yang menyebabkan seorang peserta UN tidak lulus. Dengan perkataan lain, Matematika tidak perlu ditakuti lagi. Baca lebih lanjut