Mata Bionik untuk Tunanetra

Biosains, 03 Agustus 2009. Mata bionik yang dipakai Arnold Schwarzenegger dalam film sains fiksi, Terminator, menjadi kenyataan meski tidak sesempurna mata bionik yang dipakai sang jagoan. Dalam film tersebut,  Arnold menggunakan mata bionik yang mengubah penglihatan ke informasi digital.

Selama bertahun-tahun, beberapa ilmuwan berupaya menciptakan transplantasi mata bionik untuk menjawab harapan penyandang tunanetra. Beberapa periset Amerika Serikat (AS) memprediksi dapat mencapai langkah revolusioner terhadap teknologi video dan fotografi digital yang suatu saat nanti dapat menyembuhkan kebutaan.

Dalam perkembangannya, para ilmuwan menciptakan kamera dengan permukaan lensa deteksi cembung. Tim periset AS menerangkan, aplikasi teknologi ini merupakan kemajuan besar pada sensor kamera digital. Seperti halnya fungsi retina manusia, kamera mata bionik memungkinkan pantulan cahaya dari subjek diubah menjadi gambar lewat proses pengiriman pesan saraf optik ke otak.

Sensor tersebut memungkinkan mata bionik menangkap gambar lebih tajam tanpa terjadi distorsi dengan ruang pandang lebih baik layaknya mata manusia. Namun hingga kini, para ilmuwan belum dapat menciptakan sensor digital cembung yang dipasang pada mata bionik karena sensor yang terdiri dari pixel silikon ini sangat rapuh atau mudah rusak.

Tim periset di antaranya dari Northwestern University, Illinois, AS, memecahkan masalah tersebut dengan menciptakan membran elastis setengah simetris. Membran tersebut dapat disusutkan sehingga memungkinkan dipasang ke dalam mata bionik sebelum membran itu kembali mengembang ke bentuk asal.

Menurut Profesor Yonggang Huang dari Northwestern University, kamera tradisional berfokus pada pandangan yang jelas di pusat bidikan. Namun cahaya pandangan pada sisi target bidikan sekitarnya nampak semakin memudar. Akan tetapi karena kamera mata bionik mempunyai lensa cembung maka memungkinkannya mendapatkan ruang pandang luas layaknya cakupan pada mata manusia.

Mata bionik ini hanya mempunyai 256 pixel atau masih jauh dari standar kamera digital dengan ribuan pixel. Namun, para periset menerangkan masih terbuka kemungkinan dalam waktu dekat mendesain mata bionik dengan jumlah pixel yang lebih besar.(AND/ristek.go.id)

Iklan