Binatang Ternak Hasil Kloning Aman Dikonsumsi

Kelompok studi dari lembaga keamanan pangan Jepang menyatakan, binatang-binatang hasil kloning aman untuk dikonsumsi. Namun, pernyataan itu belum direkomendasikan kepada pemerintah.

Masih dibutuhkan waktu beberapa lama sebelum Komisi Keamanan Pangan, yang berisi para ahli di tingkat lebih tinggi, mengumumkan kajian keamanan pangan hasil teknologi reproduksi yang kontroversial.
Baca lebih lanjut

Quantum Cryptography pun jebol

Kecanggihan sistem Quantum Cryptography ternyata berhasil dijebol. Salah satu metode enkripsi sistem pengamanan jaringan komputasi yang canggih serta palinq dianqqap aman selama ini yakni quantum cryptographic system ternyata mampu ditembus aksi hacker yang bahkan serangannya bersifat : “invisible attack” sehingga aksi pembobolan dapat berjalan secara diam-diam menyelinap tak terdeteksi. Baca lebih lanjut

Bioplastik: Plastik yang Ramah Lingkungan

22 Januari 2009. Mikroba adalah jasad renik yang sangat beragam jenisnya dan memiliki fungsi sebagai pengurai. Kini salah satu jenisnya telah diubah menjadi ”tenaga kerja” untuk memproduksi bioplastik oleh Khaswar Syamsu. Ia seorang perekayasa dari Institut Pertanian Bogor yang berhasil merekayasa pembuatan plastik terbuat dari bahan pati sagu dan lemak sawit sehingga menjadi plastik ramah lingkungan atau bioplastik.

Mikroba itu tenaga kerja yang tidak pernah menunggu perintah dan tidak pernah demo,” ujar Khaswar, Kamis (8/1) di laboratoriumnya yang berisi perlengkapan-perlengkapan yang usianya tergolong tua.
Perlengkapan tua itu termasuk bioreaktor buatan Jerman yang dibeli 23 tahun silam atau pada 1986. Bioreaktor itu telah menemani Khaswar setidaknya ketika memulai riset produksi bioplastik sejak tahun 2000 hingga 2006 ketika ia berhasil menemukan metode pembuatan bioplastik dan mendaftarkan patennya.

Sedikitnya ada tujuh uji coba bioplatik yang dilaksanakan. Uji coba itu meliputi kekuatan tarik, elastisitas, perpanjangan putus, sifat termal, derajat kristalinitas, gugus fungsi dalam struktur kimia, dan biodegradabilitas atau keteruraiannya.

Uji coba yang terakhir mengenai keteruraiannya ini, bioplastik hasil rekayasa Khaswar dapat terurai atau termakan mikroba dalam waktu 80 hari.

Dibandingkan dengan bahan organik lainnya, seperti kertas, laju terurai pada bioplastik ini lebih cepat,” ujar Khaswar.

Menimbun plastik

Khaswar mengutip sebuah referensi yang menunjukkan fenomena yang berlangsung saat ini berupa timbunan plastik sebagai salah satu produk utama sampah yang dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia. Padahal, sampah plastik itu tidak akan terurai dan akan merusak lapisan tanah.

Pada 2003 kebutuhan plastik di Indonesia mencapai 1,35 juta ton per tahun. Setelah menjadi sampah, pemerintah hanya mampu mengelola 20-30 persennya. Selebihnya ditimbun ke area pembuangan sampah,” katanya yang kini menjabat Kepala Divisi Rekayasa Bioproses dan Bahan Baru pada Pusat Penelitian Sumber Daya Hayati dan Bioteknologi IPB.

Pada 2000 dan 2001, Khaswar menggunakan dana riset dari program Riset Hibah Bersaing Direktorat Perguruan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan saat itu. Dana riset Rp 29,9 juta per tahun.

Kemudian dilanjutkan pada 2005 dan 2006 menggunakan dana riset dari program Riset Unggulan Terpadu Kementerian Negara Riset dan Teknologi. Dana riset setiap tahun Rp 97 juta dan Rp 93 juta. Dari kegiatan riset selama empat tahun itulah lalu dihasilkan bioplastik.

Menurut dia, harga produksi bioplastik ini antara lima sampai tujuh kali harga pembuatan plastik konvensional yang terbuat dari bahan berbasis petrokimia atau minyak bumi.

Negara Korea saat ini berhasil menyimulasikan produksi bioplastik hanya dengan biaya tiga kali biaya pembuatan plastik berbasis petrokimia. Ketika bahan petrokimia yang terbatas dan tidak teruraikan itu ke depan makin mahal, produksi bioplastik akan makin murah dan yang lebih penting ramah lingkungan,” ujar Khaswar.

Mikroba impor

Mikroba yang disebut-sebut Khaswar sebagai tenaga kerja bioplastik, yang bekerja dengan tidak pernah menunggu perintah dan tidak pernah mendemo, adalah Ralstonia eutropha impor dari Jepang.

Sebetulnya, mikroba itu juga ada di dalam tanah di mana pun di Indonesia ini. Namun, di Indonesia tidak ada badan nasional yang secara khusus menangani masalah pemetaan dan pengoleksian mikroba seperti di Jepang,” kata Khaswar.

Secara terpisah, Kepala Bidang Biologi Sel dan Jaringan pada Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Puspita Lisdiyanti mengatakan, keberadaan badan nasional yang secara khusus menangani pemetaan dan pengoleksian berbagai mikroba di Indonesia belum dirintis.

Saat ini para peneliti atau perekayasa yang membiakkan mikroba itu hanya menggunakannya demi kepentingan masing-masing. Semestinya, memang ada badan nasional yang secara khusus menangani koleksi mikroba dan pemanfaatannya untuk kepentingan bersama,” kata Puspita.

Pada era ke depan, menurut Puspita, bidang mikroorganisme ini memiliki peranan sangat penting untuk menunjang kehidupan yang berkelanjutan. Mikroba terbukti dapat menciptakan bahan bioplastik sekaligus akan mengurainya kembali. Dengan rantai ini, keseimbangan alam tercipta.

(Sumber :Nawa Tunggal, KOMPAS.com)

Mata Bionik untuk Tunanetra

Biosains, 03 Agustus 2009. Mata bionik yang dipakai Arnold Schwarzenegger dalam film sains fiksi, Terminator, menjadi kenyataan meski tidak sesempurna mata bionik yang dipakai sang jagoan. Dalam film tersebut,  Arnold menggunakan mata bionik yang mengubah penglihatan ke informasi digital.

Selama bertahun-tahun, beberapa ilmuwan berupaya menciptakan transplantasi mata bionik untuk menjawab harapan penyandang tunanetra. Beberapa periset Amerika Serikat (AS) memprediksi dapat mencapai langkah revolusioner terhadap teknologi video dan fotografi digital yang suatu saat nanti dapat menyembuhkan kebutaan.

Dalam perkembangannya, para ilmuwan menciptakan kamera dengan permukaan lensa deteksi cembung. Tim periset AS menerangkan, aplikasi teknologi ini merupakan kemajuan besar pada sensor kamera digital. Seperti halnya fungsi retina manusia, kamera mata bionik memungkinkan pantulan cahaya dari subjek diubah menjadi gambar lewat proses pengiriman pesan saraf optik ke otak.

Sensor tersebut memungkinkan mata bionik menangkap gambar lebih tajam tanpa terjadi distorsi dengan ruang pandang lebih baik layaknya mata manusia. Namun hingga kini, para ilmuwan belum dapat menciptakan sensor digital cembung yang dipasang pada mata bionik karena sensor yang terdiri dari pixel silikon ini sangat rapuh atau mudah rusak.

Tim periset di antaranya dari Northwestern University, Illinois, AS, memecahkan masalah tersebut dengan menciptakan membran elastis setengah simetris. Membran tersebut dapat disusutkan sehingga memungkinkan dipasang ke dalam mata bionik sebelum membran itu kembali mengembang ke bentuk asal.

Menurut Profesor Yonggang Huang dari Northwestern University, kamera tradisional berfokus pada pandangan yang jelas di pusat bidikan. Namun cahaya pandangan pada sisi target bidikan sekitarnya nampak semakin memudar. Akan tetapi karena kamera mata bionik mempunyai lensa cembung maka memungkinkannya mendapatkan ruang pandang luas layaknya cakupan pada mata manusia.

Mata bionik ini hanya mempunyai 256 pixel atau masih jauh dari standar kamera digital dengan ribuan pixel. Namun, para periset menerangkan masih terbuka kemungkinan dalam waktu dekat mendesain mata bionik dengan jumlah pixel yang lebih besar.(AND/ristek.go.id)

Ganti Brain Memory dengan Muscle Memory

Sistem pendidikan di Indonesia yang mengutamakan brain memory menyebabkan anak-anak Indonesia hanya mahir di bidang teori, namun tidak pada praktek. Padahal metode tersebut salah. Metode pendidikan yang tepat ialah muscle memory di mana anak-anak diajak menyeimbangkan antara teori dan praktek. Namun untuk mencapai kesusksesan metode tersebut harus dimulai dari perubahan kultur kelas.
Muscle memory sendiri didapat karena orang tersebut terlibat latihan dan bukan hanya sekadar menghafal.

Menurut Prof Rhenald Kasali, Ph.D, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) di sela acara Education Fair SMA Kanisius, Jakarta, Kamis (23/9/2010), kebanyakan sekolah hanya menerapkan brain memory. Yaitu hanya sebatas teori, menghafal rumus, mengetahui formula atau rumus, dan bukan menjalankan rumus atau menguji sendiri di lapangan.
Baca lebih lanjut