Tim Robot ITB Menang di Amerika

Syawaludin Ramatullah, Samratul Fuadi, Aslih Damaetri dan Dody Suhendra merupakan empat mahasiswa ITB yang mengharumkan Indonesia dalam kompetisi robot internasional. Robot pemadam kebakaran yang mereka desain membutuhkan riset dua tahun, sehingga wajar saja jika berhasil jadi juara. Syawaluddin menjelaskan riset robot ini dimulai sejak akhir 2008 dan menghabiskan dana riset hingga 60 juta. Sedangkan dana untuk membuat robot berkaki enam menghabiskan biaya 20-40 juta. Biaya membangun robot yang hitam menghabiskan biaya Rp 20 juta sedangkan yang merah Rp 40 juta. Yang merah memang lebih mahal karena kualitas perangkatnya lebih bagus. Kedua robot ini menggunakan prosesor Atmell sebagai “otak” atau micro controller dari robot tersebut. Program-program seperti gerakan dimasukkan ke dalam prosesor tersebut.
Baca lebih lanjut

Iklan

Zoomy si Mikroskop Digital

Tahukah Anda berapa jumlah kaki tungau? Atau Seperti apakah bentuk kaki lebah? Zaman dulu Anda memerlukan lup atau kaca pembesar untuk mengetahui jumlah kaki tungau atau bentuk kaki lebah. Dengan lup Anda dapat melihat benda-benda kecil sehingga tampak besar. Namun, Anda hanya sebatas melihat saja, tidak dapat mengabadikan. Nah, zaman sekarang ada alat yang dapat melihat benda-benda kecil sekaligus mengabadikannya, alat itu namanya  Zoomy (The Zoomy Handheld Digital Microscope).
Baca lebih lanjut

Binatang Ternak Hasil Kloning Aman Dikonsumsi

Kelompok studi dari lembaga keamanan pangan Jepang menyatakan, binatang-binatang hasil kloning aman untuk dikonsumsi. Namun, pernyataan itu belum direkomendasikan kepada pemerintah.

Masih dibutuhkan waktu beberapa lama sebelum Komisi Keamanan Pangan, yang berisi para ahli di tingkat lebih tinggi, mengumumkan kajian keamanan pangan hasil teknologi reproduksi yang kontroversial.
Baca lebih lanjut

Bunaken Segera Miliki Pusat Listrik Tenaga Surya

PT PLN membangun Pusat Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas 335 Kilowatt Pick (KWP), di Pulau Bunaken, Kota Manado, Sulawesi Utara. “Nilai kontrak pembangunan PLTS tersebut sekitar Rp18,521 miliar,” kata General Manager PT PLN Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Gorontalo (Sulutenggo), Wirabumi Kaluti, pada peletakan batu pertama pembangunan PLTS di Bunaken, Rabu.

Peletakan batu pertama pembangunan PLTS tersebut dilakukan antara lain oleh Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Sinyo Sarundajang, Direktur Energi Primer PT PLN Nur Pamudji.

Wirabumi Kaluti mengatakan, sesuai jadwal direncanakan pembangunan PLTS tersebut akan beroperasi pada Desember 2010. “Diharapkan sebelum Hari Natal masyarakat sudah dapat menikmati PLTS tersebut,” katanya.

Dia mengatakan, saat ini guna melayani masyarakat di Pulau Bunaken, PLN menggunakan pembangkit tenaga diesel yang memiliki kapasitas 400 KW dengan beban puncaknya 140 KW. Pembangkit tersebut melayani sekitar 700 pelanggan yang ada di Pulau Bunaken.

Omzet rata-rata dari pelanggan di Bunaken sekitar Rp18 juta per bulan, sementara penggunaan bahan bakar untuk pembangkit tersebut sekitar 14.000 liter per bulan atau sekitar Rp 90 juta. “Pembangunan PLTS tersebut juga untuk mengatasi tingginya BBM itu,” katanya.

Direktur Energi Primer PT PLN, Nur Pamudji mengatakan, manajemen PLN sudah bertekad untuk membangun PLTS di pulau-pulau kecil yang ada di Indonesia.

Pembangunan PLTS di Bunaken merupakan yang pertama, dan selanjutnya akan diakukan pada beberapa pulau di yang ada di Sulut seperti di Kabupaten Sitaro. Kehadiran dari PLTS ini akan menjadikan rakyat di Bunaken dan pulau-pulau lain sejahtera,” katanya. Dengan kehadiran PLTS tersebut, pelayanan listrik ke konsumen di Bunaken yang sebelumnya enam jam per hari, akan menjadi satu kali 24 jam.

Sementara Gubernur Sulut Sinyo Sarundajang mengatakan, pemerintah dan PLN merasakan kebutuhan masyarakat akan listrik sehingga membangun PLTS di Bunaken. Jika sebelumnya pelayanan listrik hanya enam jam sehari, dengan kehadiran PLTS tersebut menjadi satu kali 24 jam. “Dengan akan terlayaninya 24 jam tersebut semua usaha dan upaya masyarakat yang memanafaatkan energi listrik sudah dapat menggunakannya,” kata Sarundajang.

Sejumlah pejabat juga hadir dalam peletakan pertama itu antara lain, Danlantamal VIII Manado Laksamana Pertama TNI Agus Purwoto, Danlanudsri Manado Letkol Pnb Yudi Mandega dan Walikota Manado Robby Mamuaja.

Sumber: http://www.republika.co.id

Tip Seputar Manajemen Bandwidth

Apakah Manajemen Bandwidth itu?

Manajemen Bandwidth adalah istilah umum yang diberikan untuk sekumpulan tools dan teknik yang dapat digunakan oleh suatu institusi untuk mengurangi kebutuhan kritikal dari suatu segmen jaringan. Seringkali manajemen bandwidth diterapkan pada segmen WAN yang menghubungkan institusi ke internet yang lebih besar. Ini juga dapat diterapkan pada segmen internal yang juga bersifat kritikal, seperti segmen yang menghubungkan ruangan-ruangan kampus ke seluruh jaringan. CIO Magazine telah menerbitkan sebuah artikel gambaran yang baik tentang manajemen bandwidth berjudul “Trailblazers Bandwidth” [1]. Baca lebih lanjut

Quantum Cryptography pun jebol

Kecanggihan sistem Quantum Cryptography ternyata berhasil dijebol. Salah satu metode enkripsi sistem pengamanan jaringan komputasi yang canggih serta palinq dianqqap aman selama ini yakni quantum cryptographic system ternyata mampu ditembus aksi hacker yang bahkan serangannya bersifat : “invisible attack” sehingga aksi pembobolan dapat berjalan secara diam-diam menyelinap tak terdeteksi. Baca lebih lanjut

Bioplastik: Plastik yang Ramah Lingkungan

22 Januari 2009. Mikroba adalah jasad renik yang sangat beragam jenisnya dan memiliki fungsi sebagai pengurai. Kini salah satu jenisnya telah diubah menjadi ”tenaga kerja” untuk memproduksi bioplastik oleh Khaswar Syamsu. Ia seorang perekayasa dari Institut Pertanian Bogor yang berhasil merekayasa pembuatan plastik terbuat dari bahan pati sagu dan lemak sawit sehingga menjadi plastik ramah lingkungan atau bioplastik.

Mikroba itu tenaga kerja yang tidak pernah menunggu perintah dan tidak pernah demo,” ujar Khaswar, Kamis (8/1) di laboratoriumnya yang berisi perlengkapan-perlengkapan yang usianya tergolong tua.
Perlengkapan tua itu termasuk bioreaktor buatan Jerman yang dibeli 23 tahun silam atau pada 1986. Bioreaktor itu telah menemani Khaswar setidaknya ketika memulai riset produksi bioplastik sejak tahun 2000 hingga 2006 ketika ia berhasil menemukan metode pembuatan bioplastik dan mendaftarkan patennya.

Sedikitnya ada tujuh uji coba bioplatik yang dilaksanakan. Uji coba itu meliputi kekuatan tarik, elastisitas, perpanjangan putus, sifat termal, derajat kristalinitas, gugus fungsi dalam struktur kimia, dan biodegradabilitas atau keteruraiannya.

Uji coba yang terakhir mengenai keteruraiannya ini, bioplastik hasil rekayasa Khaswar dapat terurai atau termakan mikroba dalam waktu 80 hari.

Dibandingkan dengan bahan organik lainnya, seperti kertas, laju terurai pada bioplastik ini lebih cepat,” ujar Khaswar.

Menimbun plastik

Khaswar mengutip sebuah referensi yang menunjukkan fenomena yang berlangsung saat ini berupa timbunan plastik sebagai salah satu produk utama sampah yang dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia. Padahal, sampah plastik itu tidak akan terurai dan akan merusak lapisan tanah.

Pada 2003 kebutuhan plastik di Indonesia mencapai 1,35 juta ton per tahun. Setelah menjadi sampah, pemerintah hanya mampu mengelola 20-30 persennya. Selebihnya ditimbun ke area pembuangan sampah,” katanya yang kini menjabat Kepala Divisi Rekayasa Bioproses dan Bahan Baru pada Pusat Penelitian Sumber Daya Hayati dan Bioteknologi IPB.

Pada 2000 dan 2001, Khaswar menggunakan dana riset dari program Riset Hibah Bersaing Direktorat Perguruan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan saat itu. Dana riset Rp 29,9 juta per tahun.

Kemudian dilanjutkan pada 2005 dan 2006 menggunakan dana riset dari program Riset Unggulan Terpadu Kementerian Negara Riset dan Teknologi. Dana riset setiap tahun Rp 97 juta dan Rp 93 juta. Dari kegiatan riset selama empat tahun itulah lalu dihasilkan bioplastik.

Menurut dia, harga produksi bioplastik ini antara lima sampai tujuh kali harga pembuatan plastik konvensional yang terbuat dari bahan berbasis petrokimia atau minyak bumi.

Negara Korea saat ini berhasil menyimulasikan produksi bioplastik hanya dengan biaya tiga kali biaya pembuatan plastik berbasis petrokimia. Ketika bahan petrokimia yang terbatas dan tidak teruraikan itu ke depan makin mahal, produksi bioplastik akan makin murah dan yang lebih penting ramah lingkungan,” ujar Khaswar.

Mikroba impor

Mikroba yang disebut-sebut Khaswar sebagai tenaga kerja bioplastik, yang bekerja dengan tidak pernah menunggu perintah dan tidak pernah mendemo, adalah Ralstonia eutropha impor dari Jepang.

Sebetulnya, mikroba itu juga ada di dalam tanah di mana pun di Indonesia ini. Namun, di Indonesia tidak ada badan nasional yang secara khusus menangani masalah pemetaan dan pengoleksian mikroba seperti di Jepang,” kata Khaswar.

Secara terpisah, Kepala Bidang Biologi Sel dan Jaringan pada Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Puspita Lisdiyanti mengatakan, keberadaan badan nasional yang secara khusus menangani pemetaan dan pengoleksian berbagai mikroba di Indonesia belum dirintis.

Saat ini para peneliti atau perekayasa yang membiakkan mikroba itu hanya menggunakannya demi kepentingan masing-masing. Semestinya, memang ada badan nasional yang secara khusus menangani koleksi mikroba dan pemanfaatannya untuk kepentingan bersama,” kata Puspita.

Pada era ke depan, menurut Puspita, bidang mikroorganisme ini memiliki peranan sangat penting untuk menunjang kehidupan yang berkelanjutan. Mikroba terbukti dapat menciptakan bahan bioplastik sekaligus akan mengurainya kembali. Dengan rantai ini, keseimbangan alam tercipta.

(Sumber :Nawa Tunggal, KOMPAS.com)